redefenisi satuan internasional 2019
1.
Redefenisi
satuan internasional 2019
Pada tahun 2019, satuan
dasar SI didefinisikan ulang, dan berlaku setelah hari peringatan ke-144 Konvensi
Meter, yaitu mulai pada tanggal 20 Mei 2019.[1][2]
Pada redefinisi tersebut, empat dari tujuh satuan dasar SI (kilogram, ampere, kelvin, dan mol) akan didefinisikan
ulang dengan menetapkan nilai numerik yang tepat untuk maisng-masing konstanta
Planck (h), muatan listrik partikel (e), konstanta Boltzmann (k),
dan konstanta Avogadro (NA).
Detik, meter dan kandela telah
didefinisikan melalui konstanta fisika, meskipun definisi mereka masih
mengalami perbaikan. Definisi baru ini bertujuan untuk memperbaiki sistem SI
tanpa mengubah nilai dari satuan apa pun, sehingga memastikan kontinuitasnya
dengan pengukuran yang ada.[3][4]
Pada 16 November 2018, Konferensi Umum untuk Ukuran
dan Timbangan (CGPM) ke-26 dengan suara bulat menyetujui perubahan ini,[5][6]
di mana Komite Internasional
untuk Ukuran dan Timbangan (CIPM) telah mengusulkan redefinisi ini sejak
awal tahun tersebut setelah memastikan bahwa syarat yang telah disepakati
sebelumnya untuk perubahan definisi telah terpenuhi.[7]:23
Kondisi ini dapat terpenuhi berkat serangkaian percobaan untuk mengukur
konstanta dengan tingkat akurasi tinggi yang relatif terhadap definisi SI lama,
dan merupakan puncak dari penelitian selama beberapa dekade.
Redefinisi
Menyusul
keberhasilan redefinisi dari satuan meter pada tahun 1983 berdasarkan nilai
numerik yang tepat untuk kecepatan cahaya, Komite Konsultatif Satuan (CCU) BIPM
merekomendasikan, dan BIPM mengusulkan, bahwa empat konstanta alam lebih lanjut
harus didefinisikan untuk memiliki nilai yang tepat. Konstanta tersebut antara
lain:
Konstanta
ini dijelaskan dalam versi tahun 2006 dari manual SI, tetapi dalam versi
tersebut, tiga definisi terakhir didefinisikan sebagai "konstanta yang
diperoleh dengan eksperimen" daripada sebagai "konstanta
pendefinisi".
Definisi
baru mempertahankan nilai-nilai numerik tak berubah yang terkait dengan
konstanta alam berikut:
·
Keadaan
dasar frekuensi transisi struktur
hiperhalus dari atom
sesium-133 ΔνCs adalah persis 9.192.631.770 hertz (Hz).
·
Efikasi cahaya Kcd dari
frekuensi radiasi monokromatik 540×1012 Hz adalah persis
683 lumen per watt (lm⋅W−1).
Ketujuh definisi
di atas ditulis ulang di bawah ini dengan satuan
turunan (joule, coulomb, hertz, lumen dan watt) dinyatakan dalam tujuh satuan
dasar (detik,
meter, kilogram, ampere, kelvin, mol, dan candela), sesuai dengan edisi 9 yang
diperbarui dari Brosur SI (2018).[4] Dalam daftar berikut, simbol sr
adalah singkatan dari satuan tak berdimensi steradian.
·
h =
6,62607015×10−34 kg⋅m2⋅s−1
·
e =
1,602176634×10−19 A⋅s
·
k =
1,380649×10−23 kg⋅m2⋅K−1⋅s−2
·
NA = 6,02214076×1023 mol−1
·
c =
299.792.458 m⋅s−1
·
ΔνCs
= Δν(133Cs)hfs = 9.192.631.770 s−1
·
Kcd = 683 cd⋅sr⋅s3⋅kg−1⋅m−2
Sebagai
bagian dari definisi baru ini, prototipe kilogram internasional dipensiunkan
dan definisi satuan kilogram, ampere, dan kelvin diganti. Sementara itu definisi
untuk satuan mol direvisi.
Perubahan
ini berakibat pada pendefinisian ulang satuan dasar SI, meskipun definisi
satuan SI yang diturunkan dari satuan dasar tetap sama.
2.
Fungsi
dimensi
1. Dimensi digunakan untuk membuktikan kebenaran suatu
persamaan.
Pembelajaran ilmu fisika banyak bentuk-bentuk
penjelasan sederhana untuk memudahkan seperti persamaan fisika. Bagaimana cara
membuktikan kebenarannya? Salah satunya adalah dengan analisa dimensional.
Analisis Dimensional
Analisis dimensional adalah suatu cara untuk
menentukan satuan dari suatu besaran turunan, dengan cara memperhatikan dimensi
besaran tersebut. Salah satu manfaat dari konsep dimensi adalah untuk
menganalisis atau menjabarkan benar atau salahnya suatu persamaan (fungsi
dimensi). Metode penjabaran dimensi atau analisis dimensi menggunakan aturan :
- Dimensi ruas kanan sama dengan dimensi ruas kiri
- Setiap suku berdimensi sama
Contoh :
Sebuah benda yang bergerak diperlambat dengan
perlambatan a yang tetap dari kecepatan v0 dan menempuh jarak
sebesar S maka akan berlaku hubungan v02=2aS. Buktikan
kebenaran persamaan itu dengan analisa dimensional!
Penyelesaian :
Kecepatan awal v0 = m/s è[v0]
= [L][T]-1
Percepatan a = m/s2 è[a] =
[L][T]-2
Jarak Tempuh S = m è[S] =
[L]
Persamaan :
V02=2aS
Dimensinya :
Karena kedua
ruas kiri dan kanan sama, artinya persamaannya kemungkinan besar benar.
2. Dimensi digunakan untuk menurunkan persamaan suatu
besaran dari besaran-besaran yang mempengaruhinya.
Untuk membuktikan hukum-hukum fisika dapat dilakukan
prediksi-prediksi dari besaran yang mempengaruhinya. Dari besaran-besaran ini
dapat ditentukan persamaan dengan analisa dimensional. Bahkan hubungan antar
besaran dari sebuah eksperimen dapat ditindak lanjuti dengan analisa ini.
3.
Juga berfungsi untuk menunjukkan kesetaraan beberapa
besaran
3.
Penggunaan
(x) dan (.) sebagai pengkalian
Perkalian Titik atau Dot Product
Macam perkalian vektor selanjutnya ialah perkalian dot product atau titik. Untuk perkalian dot product ini dapat digambarkan menjadi seperti di bawah ini:
![]() |
|
Gambar
Ilustrasi Perkalian Dot Product
|
A . B = AB cos α = |A| |B| cos α
Keterangan:
A = |A| ialah besar vektor pada A
B = |B| ialah besar vektor pada B
α = sudut yang terbentuk pada vektor A dengan vektor B, dimana 0⁰ ≤ α ≤ 180⁰
Kesimpulan dari macam perkalian vektor yang kedua yaitu perkalian titik ialah:
Perkalian vektor antara dua buah titik menghasilkan skalar.
Perkalian titik dilambangkan dengan tanda titik atau dot product (.). Macam perkalian vektor ini menghasilkan skalar. Untuk itu perkalian titik juga dapat dinamakan dengan perkalian scalar product. Dalam perkalian ini terdapat beberapa hal penting yang harus diperhatikan seperti:
- A . B = 0 → cos 90⁰ = 0, apabila vektor A tegak lurus dengan vektor B sehingga nilai α = 90⁰.
- A . B = AB → cos 0⁰ = 1, apabila vektor A searah dengan vektor B sehingga nilai α = 0⁰.
- A . B = -AB → cos 180⁰ = -1, apabila vektor A berlawanan arah dengan vektor B sehingga nilai α = 180⁰.
Selanjutnya saya akan menjelaskan perkalian vektor tentang perkalian titik yang menggunakan vektor satuan. Untuk lebih jelasnya dapat anda simak gambar di bawah ini:
![]() |
|
Ilustrasi
Gambar Perkalian Titik Pada Vektor Satuan
|
Berhimpit maka i . i = j . j = k . k = 1 . 1 cos 0⁰ = 1
Tegak lurus maka i . j = i . k = j . k = 1 . 1 cos 90⁰ = 0
Berdasarkan perkalian titik menggunakan vektor satuan di atas menghasilkan persamaan di atas. Persamaan tersebut dapat digunakan untuk menghitung perkalian vektor kategori perkalian titik. Maka hasilnya akan menjadi seperti di bawah ini:
![]() |
|
Penjabaran
Perkalian Titik pada Vektor Satuan
|
Untuk sifat perkalian vektor kategori perkalian titik tersebut ialah distributif dan komutatif. Adapun sifat distributif dan komutatif pada perkalian titik ialah:
A (B + C) = A . B + A . C (Distributif)
A . B = B . A (Komutatif)
Perkalian Silang Vektor atau Cross Product
Macam perkalian vektor selanjutnya ialah perkalian cross product atau silang. Untuk perkalian cross product ini dapat digambarkan menjadi seperti di bawah ini:
![]() |
|
Gambar
Ilustrasi Perkalian Cross Product
|
A x B = C
|A x B| = AB sin α
Keterangan :
|A x B| = hasil besar vektor dari perkalian silang vektor A dengan vektor B
C = besar vektor lain dari perkalian silang vektor A dengan vektor B
α = sudut yang terbentuk pada vektor A dengan vektor B, dimana 0⁰ ≤ α ≤ 180⁰
Kesimpulan dari macam perkalian vektor yang ketiga yaitu perkalian silang ialah:
Perkalian vektor antara dua buah vektor menggunakan metode perkalian silang ialah suatu vektor pada bidang yang terbentuk oleh A dan B dengan arah yang tegak lurus.
Bagaimana cara menentukan arah vektor pada perkalian silang? Untuk itu dapat anda perhatikan gambar arah vektor di bawah ini:
Arah Perkalian Silang A x B
![]() |
|
Gambar
Arah Perkalian Vektor A x B
|
Arah Perkalian Silang B x A
![]() |
|
Gambar
Arah Perkalian Vektor B x A
|
Dalam perkalian silang terdapat beberapa hal penting yang harus diperhatikan seperti:
- Tidak berlaku perkalian silang dengan sifat komutatif. Maka persamaan A x B ≠ B x A.
- Berlaku perkalian silang dengan sifat anti komutatif. Maka persamaan A x B = -B x A.
- Vektor A tegak lurus dengan vektor B maka nilai α = 90⁰ dengan persamaan |A x B| = AB → sin 90⁰ = 1.
- Vektor A searah dengan vektor B maka nilai α = 0⁰ dengan persamaan |A x B| = 0 → sin 0⁰ = 0.
- Vektor A berlawanan arah dengan vektor B maka nilai α = 180⁰ dengan persamaan |A x B| = 0 → sin 180⁰ = 0.
Selanjutnya saya akan menjelaskan perkalian vektor tentang perkalian silang yang menggunakan vektor satuan. Hasil perkalian vektor dengan metode perkalian silang vektor satuan ini bernilai 1 untuk masing masing satuan i, j dan k. Apabila dinyatakan dalam bentuk persamaan maka akan menjadi seperti di bawah ini:
i x i = 1.1 sin 0⁰ = 0
j x j = 1.1 sin 0⁰ = 0
k x k = 1.1 sin 0⁰ = 0
Untuk lebih jelasnya dapat anda simak gambar di
bawah ini:
![]() |
|
Ilustrasi
Gambar Perkalian Silang Pada Vektor Satuan
|
![]() |
|
Penjabaran
Perkalian Silang pada Vektor Satuan
|
Untuk sifat perkalian vektor kategori perkalian silang tersebut ialah anti komutatif, asosiatif dan distributif. Adapun sifat anti komutatif, asosiatif dan distributif pada perkalian silang yaitu:
A × B ≠ B × A (Anti Komutatif)
k(A × B) = (kA) × B = A × (kB) (Asosiatif)
A × (B + C) = (A × B) + (A × C) (Distributif)
(A + B) × C = (A × C) + (B × C) (Distributif)
4. Mengapa amperemeter tidak boleh
dipasang paralel
Amperemeter
adalah alat ukur mengukur arus listrik di suatu titik. Dengan demikian, alat harus
dirangkai secara seri karena besar arus pada rangkaian seri tetap sama. Jika
dipasang paralel maka arus akan berbeda di setiap cabang dan arus listrik akan
terbagi menjadi beberapa bagian.









Komentar
Posting Komentar