memahami konsep pengukuran dan kesalahan dalam pengukuran
Pengukuran adalah membandingkan sesuatu yang dapat
diukur (besaran) dengan sesuatu yang ditetapkan sebagai patokan (satuan).

Untuk mengukur suatu besaran
fisika, kalian dapat menggunakan satu instrumen atau lebih. Dalam menggunakan
instrumen, kalian harus dapat memilih dan merangkai alat ukur atau instrumen
tersebut dengan benar. Selain itu, kalian juga dituntut untuk dapat membaca
nilai atau skala yang ditunjukkan oleh instrumen dengan benar. Dengan memilih
alat yang sesuai, merangkai alat dengan benar, dan cara membaca skala dengan
benar, kalian bisa meminimalkan kesalahan dalam pengukuran.
Ngomong-ngomong tentang besaran,
pasti kalian sudah tidak asing lagi kan mendengar kata tersebut dalam fisika. Udah
tau apa itu besaran?atau belum tau? Nah bagi kalian yang belum tau besaran itu
apa jadi, besaran adalah segala sesuatu yang dapat diukur atau dihitung,
dinyatakan dengan angka dan mempunyai satuan.
Besaran itu ada besaran apa aja
yaaa? Ada yang tau?
- Besaran Fisika yaitu besaran yang diperoleh dari pengukuran. Karena diperoleh dari pengukuran maka harus ada alat ukurnya. Sebagai contoh adalah massa. Massa merupakan besaran fisika karena massa dapat diukur dengan menggunakan neraca.
- Besaran non Fisika yaitu besaran yang diperoleh dari penghitungan. Dalam hal ini tidak diperlukan alat ukur tetapi alat hitung sebagai misal kalkulator. Contoh besaran non fisika adalah Jumlah.
Besaran
Fisika sendiri dibagi menjadi 2
1.
Besaran Pokok adalah besaran yang ditentukan lebih
dulu berdasarkan kesepatan para ahli fisika. Besaran pokok yang paling umum ada
7 macam yaitu Panjang (m), Massa (kg), Waktu (s), Suhu (K), Kuat Arus Listrik
(A), Intensitas Cahaya (cd), dan Jumlah Zat (mol). Besaran pokok mempunyai ciri
khusus antara lain diperoleh dari pengukuran langsung, mempunyai satu satuan
(tidak satuan ganda), dan ditetapkan terlebih dahulu.
Ohh iya kalian tau ga sii kenapa besaran pokok itu
Cuma ada 7? Nahh kalo mau tau baca sampai habis yaa hehe.
Awalnya besaran fisis ini dibutuhkan untuk keperluan pengukuran praktis. Jadi, dua besaran fisis pertama yang diperkenalkan adalah besaran untuk ukuran panjang dan besaran untuk ukuran massa (massa adalah ukuran yang melekat/inheren atas banyaknya materi yang terkait dengan gerak, massa inersial dan massa gravitasi).
Untuk keperluan praktis pengukurannya, maka pada tahun 1799, dua buah standar acuan yang berupa sebuah batang logam sebagai acuan panjang 1 meter serta sebuah silinder logam sebagai acuan massa 1 kilogram (keduanya terbuat dari platinum-iridium) disimpan pada Arsip Republik (Bahasa Perancis: Archives de la République) di Paris.

Sedikit lebih dari seratus tahun setelahnya, pada tahun 1874, atas dasar kebutuhan pengamatan dalam bidang Astronomi, maka besaran waktu diusulkan menjadi salah satu besaran dasar.
Dikarenakan kebutuhan pengukuran yang semakin banyak jenisnya (bervariasi) dan kebutuhan akan kesepakatan yang diterima oleh seluruh negara di dunia, maka pada 20 Mei 1875 ditandatangani perjanjian mengenai ukuran meter secara internasional, dan berdasarkan ini dibentuklah Biro Internasional untuk Ukuran dan Timbangan (Bahasa Perancis: Bureau International des Poids et Mesures/BIPM, atau dalam Bahasa Ingggris: International Bureau of Weights and Measures).
Biro Internasional untuk Ukuran dan Timbangan ini menyelenggarakan Konferensi Umum untuk Berat dan Pengukuran (Bahasa Perancis: Conférence Générale des Poids et Mesures/CGPM, atau dalam Bahasa Inggris: General Conference on Weights and Measures) untuk mendiskusikan perjanjian dan standar atau acuan internasional yang akan dipakai diseluruh dunia.
Pada konferensi CGPM ke 10 tahun 1954, ditentukanlah 6 besaran dasar fisis, yaitu besaran yang menggambarkan ukuran panjang, massa, waktu, arus listrik, temperatur termodinamika, dan intensitas cahaya (dengan satuan dasar meter, kilogram, detik, ampere, kelvin, dan candela).

Barulah pada CGPM ke 14 tahun 1971, banyaknya besaran dasar fisis menjadi 7 buah seperti yang dikenal sekarang sebagai Sistem Internasional (SI) dengan masuknya besaran yang menyatakan ukuran banyaknya partikel dengan satuan mol (karena kebutuhan pengukuran dalam bidang Kimia).

Seperti yang diungkapkan di atas, penetapan 7 besaran dasar fisis dan satuan standarnya (acuannya) yang dikenal dengan nama SI, didasarkan pada keperluan praktis pengukuran yang berkembang pada waktu yang bersangkutan. Di samping kebutuhan praktis tersebut, ketujuh buah besaran dasar ini juga mendefinisikan dimensi dari besaran yang diukur.
2.
Besaran
Turunan adalah besaran yang diturunkan dari besaran pokok. Besaran ini ada
banyak macamnya sebagai contoh gaya (N) diturunkan dari besaran pokok massa,
panjang dan waktu. Volume (meter kubik) diturunkan dari besaran pokok panjang,
dan lain-lain. Besaran turunan mempunyai ciri khusus antara lain : diperoleh
dari pengukuran langsung dan tidak langsung, mempunyai satuan lebih dari satu
dan diturunkan dari besaran pokok.
Nahh ada
yang tau ga berapa jumlah besaran turunan?
Jenis
besaran ini ada berbagai macam. Kalau ditanya ada berapa jumlah besaran
turunan? Wah banyak sekali.
untuk lebih jelas mengenai besaran ini simak tabel
besaran turunan berikut ini
|
Table
Besaran Turunan |
||||
|
Jenis
Besaran Turunan
|
Nama
Satuan Besaran Turunan
|
Satuan
Besaran Turunan (Khusus)
|
Satuan
Besaran Turunan
|
Dimensi
Besaran Turunan
|
|
luas
|
meter kuadrat
|
|
m2
|
[L]2
|
|
volume
|
meter kubik
|
|
m3
|
[L]3
|
|
frekuensi
|
hertz
|
Hz
|
s–1
|
[T]-1
|
|
kerapatan
|
kilogram per
meter kubik
|
|
kg/m3
|
[M][L]-3
|
|
kecepatan
|
meter per
second
|
|
m/s
|
[L][T]-1
|
|
kecepatan
sudut |
radian per
second
|
|
rad/s
|
[rad][T]-1
|
|
percepatan
|
meter per
second squared
|
|
m/s2
|
[L][T]-2
|
|
apercepatan
sudut |
radian per second
squared
|
|
rad/s2
|
|
|
debet
volume |
meter kubik
per sekon
|
|
m3/s
|
[L]2[T]-1
|
|
gaya
|
newton
|
N
|
kg· m/s2
|
[M] [L] [T]-2
|
|
tegangan
permukaan |
newton
per meter, joule per meter kuadrat |
N/m· J/m2
|
kg/s2
|
[M] [T]-2
|
|
tekanan
|
newton
per meter kuadrat, pascal
|
N/m2,Pa
|
kg/(m· s)
|
[M] [L]-1
[T]-2
|
|
vikositas
dinamis |
newton-second
per meter kuadrat, pascal-second
|
N s/m2,
Pa s
|
kg/(m· s)
|
[M] [L]-1[T]-2
|
|
vikositas
kinematis |
meter kuadrat
per sekon
|
|
m2/s
|
[L]2 [T]-1
|
|
usaha,
energi, panas |
joule,newton-meter,
watt-sekon
|
J,N · m,W · s
|
kg· m2/s2
|
[M] [L]2[T]-2
|
|
power,
heat flux |
watt, joule
per sekon
|
W, J/s
|
kg
· m2/s2 |
[M] [L]2
[T]-2
|
|
heat
flux density |
watt per
meter kuadrat
|
W/m2
|
kg/s3
|
[M] [T]-3
|
|
volumet
ric heat release rate |
watt per
cubic meter
|
W/m3
|
kg/(m. s3)
|
[M] [L]-1
[T]-3
|
|
koefisien
rambat panas |
watt per
meter kuadrat kelvin
|
W/(m2K)
|
kg m/(s3
· K)
|
[M] [L]
[q] [T]-3
|
|
kapasitas
panas |
joule per
kilogram kelvin
|
J/(kg·K)
|
m2/(s2·
K)
|
[L]2[T]-2[q]-1
|
|
kapasitas
panas |
watt per
kelvin
|
W/K
|
kg· m2/(s3
· K)
|
[M] [L]2[T]-3[q]-1
|
|
konduktivitas
panas |
watt per
meter kelvin
|
kg· m2/(s3
· K)
|
[M] [L]2[T]-3[q]-1
|
|
|
muatan
listrik |
coulomb
|
C
|
A· s
|
[A] [T]
|
|
tegangan
listrik |
volt
|
V, W/A
|
kg· m2/(A
· s3)
|
[M] [L]2
[T]-3[A]-1
|
|
kuat
medan listrik |
volt per
meter
|
V/m
|
kg· m/(A ·s3)
|
[M] [L] [T]-3[A]-1
|
|
hambatn
listrik |
ohm
|
|
kg· m2/(A2
· s3)
|
[M] [L]2
[T]-3[A]-2
|
|
konduktansi
listrik |
siemens
|
S, A/V
|
A2·
s3/(kg · m2)
|
[A]2 [T]3
[M] [L]-2
|
|
konduktivitas
listrik |
ampere per
volt meter
|
A/(V
· m) |
A2·
s3/(kg · m3)
|
[A]2[T]3
[M] [L]-3
|
|
kapasitas
listrik |
farad
|
F,
A · sN |
A2·
s4/(kg · m2)
|
[A]2 [T]4
[M] [L]-2
|
|
fluks
magnetik |
weber
|
Wb,V
· s |
kg· m2/(A
· s2)
|
[M] [L]2
[T]-2[A]-2
|
|
induksi
|
henry
|
H,V
· s/A |
kg· m2/(A2
· s2)
|
|
|
magnetic
permeability |
henry per
meter
|
H/m
|
kg· m/(A2
· s2)
|
|
|
magnetic
flux density |
tesla, weber
per meter kuadrat
|
T,Wb/m2
|
kg/(A. s2)
|
|
|
magnetic
field strength |
ampereper
meter
|
|
A/m
|
|
|
magnetomotive
force |
ampere
|
|
A
|
(besaran
pokok)
|
|
luminous
flux |
lumen
|
lm
|
cd sr
|
|
|
luminance
|
candela per
meter kuadrat
|
|
cd/m2
|
|
|
illumination
|
lux,lumen per
meter kuadrat
|
lx,
lm/m2 |
cd· sr/m2
|
|
|
activity
(of radionuclides) |
becquerel
|
Bq
|
s–1
|
|
|
absorbed
dose |
gray
|
GY,
J/kg |
m2/s2
|
|
|
dose
equivalent |
sievert
|
Sv,
J/kg |
m2/s2
|
|
Itulah sedikit banyaknya tentang besaran, kita lanjut
tentang pengukuran lagii yaaa
1. Kesalahan
dalam Pengukuran
Dalam pengukuran besaran fisis menggunakan alat ukur
atau instrumen, kalian tidak mungkin mendapatkan nilai benar. Namun, selalu
mempunyai ketidakpastian yang disebabkan oleh kesalahankesalahan dalam
pengukuran. Kesalahan dalam pengukuran dapat digolongkan menjadi kesalahan
umum, kesalahan sistematis, dan kesalahan acak.
Berikut akan
kita bahas macam-macam kesalahan tersebut.
a. Kesalahan
Umum
Kesalahan umum
adalah kesalahan yang disebabkan keterbatasan pada pengamat saat melakukan
pengukuran. Kesalahan ini dapat disebabkan karena kesalahan membaca skala
kecil, dan kekurangterampilan dalam menyusun dan memakai alat, terutama untuk
alat yang melibatkan banyak komponen.
Kesalahan yang dilakukan oleh seseorang ketika mengukur termasuk dalam kesalahan umum. Kesalahan umum yaitu kesalahan yang disebabkan oleh pengamat. Kesalahan ini dapat disebabkan karena pengamat kurang terampil dalam menggunakan instrumen, posisi mata saat membaca skala yang tidak benar, dan kekeliruan dalam membaca skala.
Kesalahan yang dilakukan oleh seseorang ketika mengukur termasuk dalam kesalahan umum. Kesalahan umum yaitu kesalahan yang disebabkan oleh pengamat. Kesalahan ini dapat disebabkan karena pengamat kurang terampil dalam menggunakan instrumen, posisi mata saat membaca skala yang tidak benar, dan kekeliruan dalam membaca skala.
b. Kesalahan
Sistematis
Kesalahan yang disebabkan oleh kesalahan alat ukur
atau instrumen disebut kesalahan sistematis. Kesalahan sistematis dapat terjadi
karena:
- Kesalahan titik nol yang telah bergeser dari titik yang sebenarnya.
- Kesalahan kalibrasi yaitu kesalahan yang terjadi akibat adanya penyesuaian pembubuhan nilai pada garis skala saat pembuatan alat.
- Kesalahan alat lainnya. Misalnya, melemahnya pegas yang digunakan pada neraca pegas sehingga dapat memengaruhi gerak jarum penunjuk.
Kesalahan
sistematik merupakan kesalahan yang disebabkan oleh alat yang digunakan dan
atau lingkungan di sekitar alat yang memengaruhi kinerja alat. Misalnya,
kesalahan kalibrasi, kesalahan titik nol, kesalahan komponen alat atau
kerusakan alat, kesalahan paralaks, perubahan suhu, dan kelembaban.
Kesalahan Kalibrasi
Kesalahan kalibrasi terjadi karena pemberian nilai skala pada saat pembuatan atau kalibrasi (standarisasi) tidak tepat. Hal ini mengakibatkan pembacaan hasil pengukuran menjadi lebih besar atau lebih kecil dari nilai sebenarnya. Kesalahan ini dapat diatasi dengan mengkalibrasi ulang alat menggunakan alat yang telah terstandarisasi.
Kesalahan Titik Nol
Kesalahan titik nol terjadi karena titik nol skala pada alat yang digunakan tidak tepat berhimpit dengan jarum penunjuk atau jarum penunjuk yang tidak bisa kembali tepat pada skala nol. Akibatnya, hasil pengukuran dapat mengalami penambahan atau pengurangan sesuai dengan selisih dari skala nol semestinya. Kesalahan titik nol dapat diatasi dengan melakukan koreksi pada penulisan hasil pengukuran.
Kesalahan Komponen Alat
Kerusakan pada alat jelas sangat berpengaruh pada pembacaan alat ukur. Misalnya, pada neraca pegas. Jika pegas yang digunakan sudah lama dan aus, maka akan berpengaruh pada pengurangan konstanta pegas. Hal ini menjadikan jarum atau skala penunjuk tidak tepat pada angka nol yang membuat skala berikutnya bergeser.
Kesalahan Paralaks
Kesalahan paralaks terjadi bila ada jarak antara jarum penunjuk dengan garis-garis skala dan posisi mata pengamat tidak tegak lurus dengan jarum.
Kesalahan Kalibrasi
Kesalahan kalibrasi terjadi karena pemberian nilai skala pada saat pembuatan atau kalibrasi (standarisasi) tidak tepat. Hal ini mengakibatkan pembacaan hasil pengukuran menjadi lebih besar atau lebih kecil dari nilai sebenarnya. Kesalahan ini dapat diatasi dengan mengkalibrasi ulang alat menggunakan alat yang telah terstandarisasi.
Kesalahan Titik Nol
Kesalahan titik nol terjadi karena titik nol skala pada alat yang digunakan tidak tepat berhimpit dengan jarum penunjuk atau jarum penunjuk yang tidak bisa kembali tepat pada skala nol. Akibatnya, hasil pengukuran dapat mengalami penambahan atau pengurangan sesuai dengan selisih dari skala nol semestinya. Kesalahan titik nol dapat diatasi dengan melakukan koreksi pada penulisan hasil pengukuran.
Kesalahan Komponen Alat
Kerusakan pada alat jelas sangat berpengaruh pada pembacaan alat ukur. Misalnya, pada neraca pegas. Jika pegas yang digunakan sudah lama dan aus, maka akan berpengaruh pada pengurangan konstanta pegas. Hal ini menjadikan jarum atau skala penunjuk tidak tepat pada angka nol yang membuat skala berikutnya bergeser.
Kesalahan Paralaks
Kesalahan paralaks terjadi bila ada jarak antara jarum penunjuk dengan garis-garis skala dan posisi mata pengamat tidak tegak lurus dengan jarum.
c. Kesalahan
Acak
Kesalahan acak
adalah kesalahaan yang terjadi karena adanya fluktuasifluktuasi halus pada saat
melakukan pengukuran. Kesalahan ini dapat disebabkan karena adanya gerak brown
molekul udara, fluktuasi tegangan listrik, landasan bergetar, bising, dan
radiasi.
Gerak Brown Molekul Udara
Molekul udara seperti Anda ketahui keadaannya selalu bergerak secara tidak teratur atau rambang. Gerak ini dapat mengalami fluktuasi yang sangat cepat dan menyebabkan jarum penunjuk yang sangat halus seperti pada mikrogalvanometer terganggu karena tumbukan dengan molekul udara.
Fluktuasi Tegangan Listrik
Tegangan listrik PLN atau sumber tegangan lain seperti aki dan baterai selalu mengalami perubahan kecil yang tidak teratur dan cepat sehingga menghasilkan data pengukuran besaran listrik yang tidak konsisten.
Landasan yang Bergetar
Getaran pada landasan tempat alat berada dapat berakibat pembacaan skala yang berbeda, terutama alat yang sensitif terhadap gerak. Alat seperti seismograf butuh tempat yang stabil dan tidak bergetar. Jika landasannya bergetar, maka akan berpengaruh pada penunjukkan skala pada saat terjadi gempa bumi.
Bising
Bising merupakan gangguan yang selalu Anda jumpai pada alat elektronik. Gangguan ini dapat berupa fluktuasi yang cepat pada tegangan akibat dari komponen alat bersuhu.
Radiasi Latar Belakang
Radiasi gelombang elektromagnetik dari kosmos (luar angkasa) dapat mengganggu pembacaan dan menganggu operasional alat. Misalnya, ponsel tidak boleh digunakan di SPBU dan pesawat karena bisa mengganggu alat ukur dalam SPBU atau pesawat. Gangguan ini dikarenakan gelombang elektromagnetik pada telepon seluler dapat mengasilkan gelombang radiasi yang mengacaukan alat ukur pada SPBU atau pesawat.
Gerak Brown Molekul Udara
Molekul udara seperti Anda ketahui keadaannya selalu bergerak secara tidak teratur atau rambang. Gerak ini dapat mengalami fluktuasi yang sangat cepat dan menyebabkan jarum penunjuk yang sangat halus seperti pada mikrogalvanometer terganggu karena tumbukan dengan molekul udara.
Fluktuasi Tegangan Listrik
Tegangan listrik PLN atau sumber tegangan lain seperti aki dan baterai selalu mengalami perubahan kecil yang tidak teratur dan cepat sehingga menghasilkan data pengukuran besaran listrik yang tidak konsisten.
Landasan yang Bergetar
Getaran pada landasan tempat alat berada dapat berakibat pembacaan skala yang berbeda, terutama alat yang sensitif terhadap gerak. Alat seperti seismograf butuh tempat yang stabil dan tidak bergetar. Jika landasannya bergetar, maka akan berpengaruh pada penunjukkan skala pada saat terjadi gempa bumi.
Bising
Bising merupakan gangguan yang selalu Anda jumpai pada alat elektronik. Gangguan ini dapat berupa fluktuasi yang cepat pada tegangan akibat dari komponen alat bersuhu.
Radiasi Latar Belakang
Radiasi gelombang elektromagnetik dari kosmos (luar angkasa) dapat mengganggu pembacaan dan menganggu operasional alat. Misalnya, ponsel tidak boleh digunakan di SPBU dan pesawat karena bisa mengganggu alat ukur dalam SPBU atau pesawat. Gangguan ini dikarenakan gelombang elektromagnetik pada telepon seluler dapat mengasilkan gelombang radiasi yang mengacaukan alat ukur pada SPBU atau pesawat.
2.
Ketidakpastian Pengukuran
Kesalahan-kesalahan dalam pengukuran menyebabkan hasil
pengukuran tidak bisa dipastikan sempurna. Dengan kata lain, terdapat suatu
ketidakpastian dalam pengukuran. Dalam penyusunan laporan hasil praktikum
fisika, hasil pengukuran yang kalian lakukan harus dituliskan sebagai:
Keterangan:
x = hasil pengamatan
x൦ = pendekatan
terhadap nilai benar.
Δx = nilai ketidakpastian.
Arti dari penulisan tersebut adalah hasil pengukuran
(x) yang benar berada di antara x – Δx dan x + Δx. Penentuan x൦ dan Δx tergantung pada pengukuran tunggal atau
pengukuran ganda atau berulang.
a.
Ketidakpastian dalam Pengukuran Tunggal
Pengukuran tunggal merupakan pengukuran yang hanya dilakukan sekali
saja. Pada pengukuran tunggal, nilai yang dijadikan pengganti nilai benar
adalah hasil pengukuran itu sendiri. Sedangkan ketidakpastiannya diperoleh dari
setengah nilai skala terkecil instrumen yang digunakan. Misalnya, Anda mengukur
panjang sebuah benda menggunakan mistar.
Jika mengukur panjang meja dengan sebuah penggaris, kalian mungkin akan mengukurnya satu kali saja. Pengukuran yang kalian lakukan ini disebut pengukuran tunggal. Dalam pengukuran tunggal, pengganti nilai benar (x0) adalah nilai pengukuran itu sendiri.
Jika mengukur panjang meja dengan sebuah penggaris, kalian mungkin akan mengukurnya satu kali saja. Pengukuran yang kalian lakukan ini disebut pengukuran tunggal. Dalam pengukuran tunggal, pengganti nilai benar (x0) adalah nilai pengukuran itu sendiri.
Apabila kalian perhatikan, setiap alat ukur atau
instrumen mempunyai skala yang berdekatan yang disebut skala terkecil. Nilai
ketidakpastian (Δx) pada pengukuran tunggal diperhitungkan dari skala terkecil
alat ukur yang dipakai. Nilai dari ketidakpastian pada pengukuran tunggal
adalah setengah dari skala terkecil pada alat ukur.
b.
Ketidakpastian dalam Pengukuran Berulang
Dalam praktikum
fisika, terkadang pengukuran besaran tidak cukup jika hanya dilakukan satu
kali. Ada kalanya kita mengukur dimensi
besaran secara berulang-ulang. Ini dilakukan untuk mendapatkan nilai
terbaik dari pengukuran tersebut. Pengukuran berulang adalah pengukuran yang
dilakukan beberapa kali atau berulang-ulang.
Setelah mengetahui ketidakpastian relatifnya, Kita dapat menggunakan aturan yang telah disepakati para ilmuwan untuk mencari banyaknya angka yang boleh disertakan dalam laporan hasil pengukuran berulang. Aturan banyaknya angka yang dapat dilaporkan dalam pengukuran berulang adalah sebagai berikut.
Setelah mengetahui ketidakpastian relatifnya, Kita dapat menggunakan aturan yang telah disepakati para ilmuwan untuk mencari banyaknya angka yang boleh disertakan dalam laporan hasil pengukuran berulang. Aturan banyaknya angka yang dapat dilaporkan dalam pengukuran berulang adalah sebagai berikut.
- ketidakpastian relatif 10% berhak atas dua angka
- ketidakpastian relatif 1% berhak atas tiga angka
- ketidakpastian relatif 0,1% berhak atas empat angka
semoga bermanfaat :)


Komentar
Posting Komentar